Buasnya Hyundai IONIQ 5 N Bertenaga 650 PS
Arfian Alamsyah
|18 November 2024

Kali ini tim redaksi Auto Jago Indonesia berkesempatan untuk mencoba langsung mobil listrik berperforma tinggi Hyundai IONIQ 5 N. Tak tanggung-tanggung kami jajal langsung mobil seharga Rp 1,3 miliar ini di habitatnya yakni Sirkuit Mandalika.
Sebelum jalan, mobil yang basisnya berjenis Crossover Utility Vehicle (CUV) ini diperiksa dulu tekanan bannya. Menurut Silas Bonar Andrianto pembalap selaku Lead Test Driver acara ini, diperlukan penyesuaian tekanan ban agar mobil punya grip dan traksi optimal di Sirkuit Mandalika.

"Kemarin kami diskusi, ternyata perlu penyesuaian tekanan ban dari awalnya sekitar 37 psi ke sekitar 32 psi saja. Alasannya ketika suhu ban naik, nantinya tidak over tekanan bannya," beber Silas panggilan akrab redaksi kami ke Silas Bonar Andrianto.
Setelah tekanan ban disesuaikan, kami pakai balaclava dan helm di kepala agar aman. Masuk ke kabin juga sama mudahnya dengan IONIQ 5 yang biasa kami kemudikan, tinggal kantungi kunci saja, mendekat ke pintu maka flush handoor akan terbuka dan tinggal masuk saja.

Nuansa yang berbeda langsung terasa di kabin Hyundai IONIQ 5 N ini, material empuk dengan dominasi warna gelap menambah aura sporty dari mobil ini. Apalagi ketika duduk di N Light Sport Bucket Seat yang menurut kami sangat menunjang ergonomika saat berkendara.

Oke, nyalakan 'engine' dengan cara yang sama seperti IONIQ 5 biasa, maka yang langsung terdengar adalah suara mesin mobil konvensional. Lho kok bisa mobil listrik punya suara mesin? Say thanks untuk fitur N Active Sound+ yang mampu mereproduksi suara demi membangkitkan gairah mengemudi.
Saat pertama kali mobil bergerak dari pit lane ke lintasan, kami merasakan putaran setir di IONIQ 5 N ini jauh lebih direct dan punya feedback yang lebih baik dibandingkan IONIQ 5 standar. Disinyalir mobil ini pakai jenis racksteer yang berbeda.

Terbukti saat kami belokkan ia terasa sigap. Pun demikian bila tak sengaja menginjak kerb atau mengenai kerikil halus, semua itu langsung kami bisa rasakan di setir yang modelnya keren dan bertabur tombol multifungsi ini.
Di lap-lap awal kami membiasakan diri dulu dengan mobil ini. Enggak langsung gaspol demi alasan safety. Saat dijalankan dengan kecepatan sedang 60-90 km/jam mobil ini ternyata juga bisa sopan dan memberikan kenyamanan yang baik.

Masuk lap kedua kami langsung kerahkan semua tenaga mobil ini di lintasan. Di lintasan lurus kami gunakan fitur N Grin Boost yang mampu melecutkan tenaga optimum yang di angka 650 PS ke semua rodanya selama 10 detik.
Tercatat kecepatan 215 km/jam mampu kami raih di lintasan lurus Sirkuit Mandalika. Yang merupakan kecepatan tertinggi di sesi ini. Kami rasa di jalanan lurus yang lebih panjang, tak perlu waktu lama untuk mencapai kecepatan maksimumnya di 260 km/jam.

Hebatnya, saat mengerem keras, kaliper 4 piston di roda depan menjepit rotor disc 400 mm plus 1 kaliper piston yang mencengkram rotor disc 360 mm di roda belakang bekerja dengan sangat baik. Deselerasi yang keras mampu dilakukan dengan halus agar masuk tikungan lebih smooth.
Sisten N Brake Regen juga berperan penting saat mobil melakukan pengereman. Kami merasa sistem ini efektif sekali di sirkuit, karena mampu melakukan maintain hingga 0,2G bahkan saat sistem Anti-lock Braking System (ABS) aktif mencegah rem mengunci. Hasilnya handling bisa lebih presisi.

Melaju ke tikungan cepat berbentuk S, kami agak nafsu untuk mengejar Lead Car IONIQ 5 N berkelir putih yang dikemudikan oleh Yasuo 'Senna' Iriawan. Dia adalah pembalap GT3 yang berlaga di event balap internasional, sekaligus pemegang rekor lap tercepat di sirkuit ini.
Alhasil di tikungan tersebut kami libas dengan kecepatan antara 185 sampai 200 km/jam! Tapi tetap saja tak terkejar, jago banget emang anak itu (Senna). Hahaha... Nah saat bermanuver cepat, tubuh kami tertopang oleh kursi Bucket Seat ini plus pad yang ada di Center Console-nya. Jadi badan dan paha enggak terasa lari-lari.

Di kecepatan setinggi itu pun, kami merasa tetap aman karena suspensi IONIQ 5 N walau dirasa agak empuk untuk penggunaan di sirkuit dengan karakter Rolling Speed seperti Mandalika, namun tetap memberikan kestabilan yang baik. Wah, terbukti deh slogan Corner Rascal & Racetrack Capability di mobil ini.

Meskipun lahir dengan kemampuan Racetrack Capability & Corner Rascal. Tapi sektor kepraktisan tetap diperhatikan Hyundai saat merancang mobil ini. Beberapa akan kami jabarkan sebagai berikut.
Pertama dari sisi pengecasan, karena ia tetap membawa basis arsitektur pengecasan 800 Volt, maka Charging Speed mobil berbaterai 84 kWh ini bisa di angka 350 kW, yang artinya hanya butuh 18 menit untuk mengisi daya dari 0% State of Charge (SoC) ke 80%. Dan bisa menggunakan Charger DC Ultra Fast Charging di Plaza Indonesia yang kecepatannya mencapai 240 kW.

Lantas, kelegaan kabin mobil ini juga tetap baik. Hal itu berkat Wheelbase sepanjang 3 meter (3.000 mm) yang membuat kabin belakang tetap lega (meski tidak selega IONIQ 5 biasa). Lalu bagasinya juga sama leganya dengan IONIQ 5 non N. Ini membuat Anda kapabel untuk melakukan perjalanan jauh.
Sebagai mobil listrik berperforma tinggi, sebenarnya IONIQ 5 N sudah demikian sempurna. Ia nyaris tak punya lawan berarti di segmen ini, namun setelah pengujian intens di sirkuit Mandalika, kami juga memiliki beberapa catatan penting agar IONIQ 5 N lebih baik kedepannya:
1. Development Ban Multipabrikan Perlu Dilakukan
Saat menggeber mobil ini, kami merasa bahwa pabrikan Hyundai perlu bekerja sama lebih lanjut dengan beberapa pabrikan ban untuk mendevelop ban yang lebih sesuai dengan IONIQ 5 N, terutama untuk kebutuhan di sirkuit.

Sebab ban Pirelli yang mobil kami gunakan ketika sudah digunakan cengkramannya masih kalah baik dibandingkan ban Michelin yang ada di mobil Senna. Meski ukurannya sama tapi Michelin dinilai para instruktur yang juga pembalap ini lebih baik saat penggunaan di sirkuit.
2. Mengembangkan Kampas Rem yang Lebih Baik

Bukan berarti rem IONIQ 5 N tidak pakem, namun karena bobot mobil listrik ini lebih dari 1,8 ton (tepatnya 2 ton lebih sedikit), maka Hyundai perlu mendevelop kampas rem yang lebih baik untuk penggunaan di sirkuit.
Sekadar informasi, suhu rem depan (diukur dengan Heat Gun dari Rotor Disc) mobil saat kami gunakan ada di angka 230 derajat, sementara mobil IONIQ 5 N Lead Car yang dikemudikan Senna bisa mencapat 400 derajat!

Menurut kami IONIQ 5 N sukses menjadikan Hyundai sebagai pionir Electric High Performance Car. Performanya sangat memukau, Handlingnya juga mantab, dan seharusnya tetap bisa digunakan untuk sehari-hari (Everyday Sportscar). Next kami akan uji mobil ini di jalan raya untuk mengetahui seberapa hemat konsumsi energinya dan seberapa baik ia digunakan untuk sehari-hari.
Gallery