Review Truk Listrik Mitsubishi FUSO eCanter
Arfian Alamsyah
|24 Desember 2024

Tim Auto Jago Indonesia mendapat kesempatan istimewa dari PT Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) selaku agen pemegang merek dagang FUSO di Indonesia untuk mencoba truk terbaru mereka. Yakni sebuah truk listrik yang punya nama besar di Indonesia yakni Mitsubishi FUSO, namun dengan tambahan eCanter karena ini bertenaga listrik murni.
Perjalanan FUSO eCanter di Indonesia penuh lika-liku. Bagaimana tidak? Sejak 5 tahun ke belakang atau tepatnya pada tahun 2020 lalu Light Duty Truck (LDT) ini sebenarnya sudah mejeng di Tanah Air. Tepatnya di ajang GAIKINDO Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC).

Namun PT KTB saat itu masih memamerkan FUSO eCanter sebagai showcase saja. Saat itu eCanter yang dipajang berkelir biru dan belum yang terbaru, jarak tempuhnya masih terbatas di 100 kilometer saja. Sementara yang kami coba ini sudah model yang disempurnakan.
Baru pada pertengahan tahun 2024 ini FUSO eCanter resmi mengaspal di Indonesia. Itupun PT KTB enggan untuk memberitahu harga jualnya, sebab menurut mereka harga jual truk listrik yang satu ini harus dihitung satu paket dengan layanan aftersalesnya, nanti akan kami jelaskan detail di bagian akhir.
Alhasil baru satu perusahaan saja yang menggunakan truk listrik Mitsubishi ini untuk operasional, yakni sesama perusahaan dari Jepang yakni Yusen Logistic. Perusahaan Supply Chain dan End to End Distribution itu menggunakan unit yang sama dengan yang kami uji ini.

Dari luar, aura canggih sudah terlihat di FUSO eCanter ini. Sebab ia dilengkapi lampu depan Light Emitting Diode (LED) yang desain rumah lampunya keren dengan cahaya putihnya yang terang. Truk yang kami coba ini juga terdapat opsi lampu halogen warna kuning yang mampu meningkatkan visibilitas pada jalan berkabut.
Dilengkapi juga dengan Daytime Running Light (DRL) yang selalu menyala saat mengemudi, bahkan pada siang hari, untuk mendukung keamanan berkendara. Lampu menyala saat kunci dihidupkan, dan mati saat lampu posisi atau lampu kabut dinyalakan.
Lampu depan ini terdapat kontrol sinar lampu sorot tinggi/rendah berfungsi secara otomatis. Sistem akan secara otomatis beralih ke sorot tinggi di jalan yang gelap, misalnya di tempat tanpa lampu jalan, dan secara otomatis beralih ke sorot rendah di area terang, di mana ada kemungkinan adanya mobil atau kendaraan lain di depan.

Namun perlu dicatat, kontrol otomatis oleh Intelligent Headlight Control (IHC) ini tetap memiliki batasan tergantung pada situasinya. Selalu periksa kondisi sekitar dan lakukan pengaturan sinar secara manual jika diperlukan.
Beralih ke bagian samping lingkar roda 20 inchi terlihat kecil di truk ini. Maklum saja truk ini meskipun sudah spesifikasi Indonesia, tapi statusnya ia tetap didatangkan bulat-bulat dari Jepang. Rem depan pakai model cakram yang menjamin pelepasan panas lebih sempurna.
Di bagian buritan, Lampu belakang LED kombinasi menggabungkan beberapa fungsi dalam satu desain terintegrasi yang canggih sebagai perlengkapan standar:
* lampu berhenti
* lampu belakang (lampu kota)
* lampu sein
* lampu cadangan (mundur)

Pendaran cahaya yang cerah dan respons pencahayaan yang sangat baik dari lampu berhenti meningkatkan visibilitas untuk kendaraan yang mengikuti di belakang.
Kunci truk ini begitu modern, karena persis seperti mobil penumpang. Tak ada lagi cerita membuka via anak kunci, tapi tinggal dikantungi saja dan Anda bisa naik ke dalam. Tester Autojago.com yang punya postur 173 cm tak kesulitan ketika hendak naik ke kabin truk ini.

Setelah membuka pintu, tangan kanan menggenggam pegangan tangan, sembari kaki kanan ada di pijakan lalu naiklah ke kabin dengan mudah. Kami rasa kaum hawa juga tak akan kesulitan naik di kabin truk ini, karena kabinnya enggak begitu tinggi seperti truk LDT pada umumnya.
Begitu berada di dalam kabin, kami terkesima dengan desain interiornya. Lekuk dashboard begitu modern dan trendy seolah bikin lupa bahwa ini adalah sebuah truk untuk bekerja mencari pundi-pundi rupiah. Layoutnya berpadu sempurna dengan Head Unit Toucscreen yang mirip punya Xpander lama.

Terdapat tiga layar monitor di truk ini. Pertama adalah Head Unit yang tadi sudah kami sebutkan, kedua adalah layar yang letaknya sebagai pengganti spion tengah. Ini berfungsi tak hanya menampilkan gambar tapi juga suara, jadi ketika ada tukang parkir di luar suaranya tetap terdengar meski jendela tertutup.

Kursinya meski berbusa tidak terlalu tebal tapi cukup nyaman ketika diduduki. Terdapat pengatur ketinggian seatbelt yang kami yakin amat jarang ditemui di truk kelas LDT. Posisi duduknya juga baik layaknya truk LDT Mitsubishi FUSO yang merajai penjualan setiap tahunnya.

Saat hendak menyalakan 'mesin' juga tentunya berbeda dengan truk bermesin diesel biasa. Anda harus injak pedal rem, putar knop mirip kunci di balik setir sebelah kanan dua kali ke arah depan, setelah panel instrumen digitalnya menyala, maka putar sekali lagi knop ke arah yang sama lalu tunggu indikator 'READY' muncul.
Satu yang jadi catatan, pastikan indikator 'READY' tersebut berhenti berkedip. Bila masih berkedip jangan jalankan truk terlebih dahulu meski Air Conditioner (AC) sudah dingin. Baru ketika indikator sudah firm di 'READY' maka truk sudah siap untuk dijalankan.

Meski kami sebenarnya bisa saja mengendarai truk ini ke luar area PT KTB, tapi oleh karena mempertimbangkan sisi safety dan regulasi, maka kami melakukan uji jalan ini di komplek kantor PT KTB saja. Sebab tester kami Surat Izin Mengemudi (SIM)-nya belum B1 alias masih A pada umumnya.
Sekadar informasi dan mengingatkan, SIM memiliki kedudukan hukum yang kuat saat di jalan raya. Jika amit-amit terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka pengemudi akan diperiksa SIM nya. Bila penggunaan SIM tidak sesuai peruntukannya, maka sudah pasti salah di mata hukum.

Truk ini menyenangkan ketika dijalankan. Yes, suspensi depannya memang tidak empuk namun enggak bikin mual saat melewati jalanan tidak rata. Jok yang busanya tipis itu juga ternyata mampu menopang tubuh dengan baik. Lagipula sopir truk ini maksimal hanya berjalan sekitar 100 kilometer.
Sebab, kapasitas baterai eCanter yang hanya 83 kWh hanya mampu memberikan jarak tempuh dalam sekali charge penuh di angka 140 kilometer. Ini adalah angka klaim dengan Gross Vehicle Weight maksimal eCanter yang di angka 6 ton, dengan muatan (payload) 3 ton.

Putaran setirnya ringan berkat penggunaan Power Steering, namun yang kami rasakan adalah meski dimensi FUSO eCanter ini tak beda jauh dari FUSO Canter biasa bermesin diesel, namun jumlah putaran (lock to lock) setirnya lebih banyak. Misal untuk belok patah butuh 3-4 kali putaran setir.

Hal tersebut (lock to lock) yang banyak akan membutuhkan adaptasi lebih bagi pengemudi truk yang biasa nyetir truk engkel biasa. Demikian pula dengan respon pedal gasnya, wuih injak dikit ngacir. Tenaga 150 PS terlontar sepenuhnya ke dua roda belakang via transmisi Automatic. Wah yang biasa nyetir truk diesel musti hati-hati nih injak pedal gasnya...

FUSO eCanter ini memiliki Regenerative Brake yang mampi memberikan pengereman yang baik serta secara bersamaan dapat menghasilkan listrik untuk mengisi daya baterai eCanter saat dalam perjalanan.
Penerapan pengereman regeneratif secara aktif dapat berkontribusi pada peningkatan jarak tempuh. Kekuatan pengereman dapat disesuaikan dalam empat tingkat, mulai dari tanpa regenerasi hingga regenerasi yang kuat.

Rinciannya ada di D, DB1, DB2, dan DB3. Khusus di DB3 penggunaannya mirip fitur One Pedal Driving di mobil listrik dan beberapa mobil Hybrid yang pernah tim redaksi kami coba. Memang tidak sampai berhenti, namun ketika terbiasa menggunakannya ia akan sangat menyenangkan.
Rasanya kalau kami sudah punya SIM B1 atau selevel, kami ingin coba lagi truk ini di jalan raya untuk mengetahui performa sesungguhnya. Terutama seberapa hemat konsumsi energi truk ini, sebab menurut hitungan kasar ia tidak terlalu hemat konsumsi listriknya.
Kepraktisan kabin truk ini juga oke punya, terdapat laci penyimpanan terbuka di atas pengemudi, ada USB type-A, dua buah USB type-C, boks penyimpanan di tengah, dan laci penyimpanan terbuka di sebelah Head Unit. Ini menambah kepraktisan kabinnya.

Truk Mitsubishi FUSO eCanter yang kami uji ini sudah dilengkapi dengan karoseri boks buatan SALUYU yang memang terkenal baik akan kualitasnya. SALUYU sudah memiliki RKB (Rancang Bangun Kendaraan) FUSO eCanter, jadi desainnya sudah disesuaikan dengan truk listrik ini.

Sebagai truk yang canggih, tentu saja FUSO eCanter sudah dilengkapi dengan berbagai kelengkapan advance di antaranya:
* Electronic Stability Program (ESP®)
ESP® terus memantau stabilitas eCanter dengan sensor untuk memberikan kontrol optimal terhadap output motor dan gaya pengereman pada setiap roda.
Sistem ini membantu pengemudi menjaga eCanter tetap stabil dan menghindari risiko tergelincir atau terguling. Sakelar mati ESP® juga tersedia untuk menonaktifkan sistem jika diperlukan.

Lampu peringatan ESP® OFF dengan jelas memperingatkan pengemudi ketika sistem telah dinonaktifkan atau jika terjadi malfungsi.
* Lane Departure Warning System (LDWS)
LDWS adalah sistem bantuan mengemudi yang memperingatkan pengemudi ketika kendaraan telah menyeberang keluar jalur dan melindungi pengemudi agar tidak tertidur saat mengemudi atau mengemudi secara lalai.
Fungsi bantuan berkendara mungkin tidak tersedia dalam kondisi di mana penanda jalur tidak jelas karena tertutup banjir, penerangan dari belakang, atau dalam kondisi jarak pandang yang buruk seperti hujan atau kabut.
* AVAS (Accoustic Vehicle Alert System)
Karena truk listrik cenderung menghasilkan sedikit suara saat bergerak, orang di sekitar kendaraan mungkin tidak menyadari kehadiran truk tersebut.
eCanter mengeluarkan suara dari depan saat bergerak dengan kecepatan 20 km/jam atau kurang untuk memberi peringatan kepada pejalan kaki dan orang lain di sekitar kendaraan tentang keberadaannya.
Saat mundur, eCanter juga mengeluarkan suara serupa untuk memberi peringatan kepada pejalan kaki dan mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas.
* Sakelar Pemutus Tegangan Tinggi
Sakelar penghenti darurat terletak di sisi kanan kendaraan untuk mematikan pasokan listrik tegangan tinggi dari luar kendaraan saat terjadi kecelakaan atau keadaan darurat lainnya.

Hanya dengan menekan tombol merah ini dalam keadaan darurat akan memutuskan pasokan listrik tegangan tinggi untuk mengurangi risiko sengatan listrik. Memutuskan pasokan listrik tegangan tinggi hanya boleh dilakukan dalam keadaan darurat.

Jangan tekan sakelar ini kecuali dalam keadaan darurat. Sakelar Pemutus Tegangan Tinggi ini jika tak dibutuhkan. Karena tidak akan kembali secara otomatis setelah ditekan. Truk harus dibawa ke bengkel untuk menghapus kode masalah diagnostik (DTC).

Jarak maksimum 140 kilometer dalam satu kali pengecasan jelas kurang jauh untuk sebuah truk. Ekspektasi kami truk ini memiliki jarak meksimum di angka 200 hingga 300 kilometer dalam satu kali pengecasan.

Bila hendak lebih memudahkan pengguna, ada baiknya colokan CHAdeMO untuk pengisian daya cepat (Fast Charging) diganti dengan soket jenis Combined Charging System 2 (CCS2) yang lebih jamak ditemui di Indonesia.

Dengan kapasitas daya baterai 83 kWh dan jarak tempuh 140 kilometer. Maka hitungan kasarnya truk ini konsumsi daya energinya ada di angka 1,68 kilometer per kWh. Meski baru ukuran secara teoritis, tapi ini sangat boros daya.
Perhitungan sederhananya begini, untuk charging baterai dari 0 ke 83 kWh biayanya Rp132 ribu. Itu didapat dengan asumsi biaya listrik per kWh adalah Rp1.600. Kalau di isi di SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) biaya bisa membengkak jadi Rp 207,5 ribu karena per kWh Rp 2.500-an.
Coba bandingkan jika truk konvensional diisi solar dengan muatan 3 ton, konsumsi bahan bakar sebuah truk paling hanya sekitar 3 hingga 4 km/l, artinya untuk mencapai 100 kilometer truk konvensional membutuhkan 30 sampai 40 liter.

Jika isi solar biasa (Bio Solar) itu per liternya adalah Rp 6.800, berarti butuh uang Rp 204 ribu hingga Rp 272 ribu, jadi dibandingkan dengan solar biasa sekalipun energi listrik memang lebih murah namun tak terlalu signifikan.
Konsekuensinya FUSO eCanter akan lebih sering re-charge untuk penggunaan jarak jauh. Ini tidak praktis, mengingat isi daya listrik tidak secepat isi BBM cair yang paling lama 5 sampai 10 menit sudah selesai, kalau eCanter paling cepat ± 3 jam pakai Fast Charging (25Kw)

Truk listrik seperti ini seharusnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Sebab truk nol polutan ini dapat menjadi solusi bisnis hijau. Kalau harganya bisa ditekan jauh, tentunya makin banyak pengusaha yang bisa menjangkau truk FUSO eCanter ini.

Meski tak disebutkan, namun kami cukup yakin harga truk ini mahal. Di tahun 2020, bocoran yang kami dapatkan dari internal FUSO eCanter harganya setara dengan 6 unit Mitsubishi Pajero Sport Dakar. Semoga saja saat ini tidak setinggi itu harganya.
Pembelian eCanter sudah termasuk garansi lengkap hingga 6 tahun atau 180.000 kilometer, tapi itu tergantung mana yang dicapai lebih dulu, dan konsumen juga akan mendapatkan layanan servis gratis selama 5 tahun.