SERES E1 L-Type: Microcar Andalan Untuk Dalam Kota
Arfian Alamsyah
|5 November 2024

Kondisi lalu lintas Daerah Khusus Jakarta (DKJ) yang semakin-hari semakin padat, membuat orang harus punya trik tersendiri untuk mengatasinya. Mengingat tidak semua hal bisa diselesaikan dengan transportasi umum.
Ambil contoh, orang tua yang harus mengantar anaknya yang masih kecil itu tidak mungkin menyuruh anaknya untuk naik sendiri ke transportasi umum. Apalagi mendampingi naik public transport di jam sibuk. Itu sama saja bunuh diri.
Beruntung pabrikan mobil punya beragam jurus untuk mengatasi itu semua. Mulai dari mengeluarkan mobil City Car atau juga Low Cost Green Car dengan harga murah, atau yang kekinian Microcar.
Well, Microcar adalah mobil kecil dengan tiga pintu (pintu samping kanan-kiri plus bagasi belakang). Yang punya dimensi ultra ringkas namun tetap memberikan kelegaan kabin di bagian dalamnya. Salah satu yang kami uji saat ini adalah SERES E1.

SERES E1 memiliki dua tipe yakni B-Type dan L-Type. Masing-masing dibedakan melalui kelengkapan / fitur, dan juga kapasitas baterai. Yang kami uji jalan kali ini adalah tipe L-Type yang menjadi top of the line model E1 di Indonesia. Mari kita coba.
Kunci mobil ini mirip dengan kepunyaan seteru abadinya yakni Wuling Air ev. Bedanya kunci SERES E1 L-Type ini bisa membuka lock pintu bagasi dari remotenya. Ingat hanya lock-nya saja, untuk swing alias mengangkatnya tetap dilakukan manual.

Setidaknya fitur ini menambah kepraktisan dari E1 dibandingkan Air ev. Bila Anda sedang repot membawa belanjaan atau barang bawaan, jika sudah membuka lock pintu dari kunci, berarti tinggal angkat saja pintu ini. Meskipun pintu ini juga punya kelemahan yang nanti akan kami jabarkan lebih lanjut.
Oke, sekarang mari mulai persiapan berjalan. Tombol di kunci harus ditekan ketika hendak membuka pintu. Lanjut masuk ke dalam kabin. O ya pintunya walau besar agak terasa berat ya, ini akan sedikit menyulitkan bagi kaum hawa. Meski tak perlu berharap banyak untuk kapasitas bagasinya, apalagi bibir pintu bagasinya tinggi, bikin agak sulit loading/undloading barang yang berat.

Kabinnya lega sekali untuk ukuran mobil sekecil ini. Ruang kaki luas sekali, Anda bisa selonjoran! Sebagai informasi dimensi mobil ini panjangnya 3.030 mm, lebar 1.495 mm dan tingginya 1.640 mm serta wheelbase di angka 1.960 mm.
Posisi mengemudinya untuk tester dengan tinggi badan 173 cm agak aneh, karena tinggi tapi setirnya terasa kejauhan. Tapi untuk wanita yang posturnya di angka 160-an cm yang sempat menemani test drive tim tester Auto Jago Indonesia katanya rasanya masih oke.

Untuk mengaktifkan mobil, Anda perlu menekan tombol START/STOP di sebelah kanan setir. Tanda mobil menyala atau siap untuk jalan adalah indikator READY di panel instrumen tepat di depan pengemudi, kalau sudah muncul tinggal geser ke bawah tuas selector di sebelah kanan ke D maka mobil siap untuk dijalankan.

Hal pertama yang kami rasakan ketika menjalankan mobil ini adalah creeping atau kemampuan merayap mobil ini yang begitu lambat. Kecepatan creeping-nya hanya di angka 2 sampai 3 km/jam. Berbeda dengan mobil biasa yang kecepatan merayapnya (tanpa digas) bisa mencapai 5-7 km/jam.

Ini membuat ketika menghadapi kemacetan perlu effort sedikit untuk menginjak pedal akselerator. Parahnya, mobil ini pedal akseleratornya tidak responsif, terdapat jeda alias delay sekitar 0,5 sampai 0,9 detik ketika pedal akselerator diinjak hingga dinamo merespon untuk membuat mobil berjalan.
Bagi yang belum biasa ini akan mengganggu, tapi menurut kami ini hanya perlu adaptasi saja. Karena delay-nya pedal gas ini tak terlalu berpengaruh saat kami melakukan tes akselerasi dari diam ke 100 km/jam. Ia butuh waktu 19,8 detik untuk mencapai 100 km/jam, alias lebih cepat nyaris 3 detik dibandingkan dengan Wuling Air ev pada parameter yang sama.
Begitu terbiasa dengan mobil ini ia terasa sangat menyenangkan di dalam kota. Putaran setirnya enteng, membuat kaum hawa maupun kaum adam merasa nyaman untuk memutar roda kemudinya. Terlebih saat hendak parkir. Rasanya gampang banget parkir di manapun.

Sayangnya, untuk pengendaraan jarak jauh di atas 100 kilometer sekali perjalanan, kami rasa ia tak cocok. Karena posisi mengemudinya benar-benar bikin pegal. Toh SERES Indonesia juga bilang kalau mobil ini merupakan solusi di dalam kota. Maka gunakan di dalam kota.
Repotnya adalah ketika kami hendak melakukan pengujian konsumsi energi listrik tol. Dengan kecepatan rata-rata baku yang kami set di angka 90 km/jam untuk setiap mobil yang tim Auto Jago Indonesia uji, ia agak keteteran dan daya baterainya cepat habis.
Kami baru melaju sekitar 60 kilometer dengan kecepatan konstan di angka 105 km/jam (di speedometer) atau 100 km/jam di GPS kami. Baterainya sudah drain (turun dengan cepat) dari angka 70-an persen ke 35%. Membuat kami terpaksa harus menghentikan proses uji coba untuk rute tolnya, karena khawatir mobil ini kehabisan daya baterai.
Sebab jika daya baterai mobil ini sudah di bawah 5%, perlahan tapi pasti tenaga mobil dilimit, lama kelamaan mobil kehilangan tenaga dan berhenti total. Buat yang penasaran angka konsumsi energinya di jalan tol, hasilnya hanya di angka 9,1 kWh/100 kilometer yang mana itu boros banget.

9,1 kWh/100 kilometer sama dengan 10,9 kilometer untuk setiap kWh nya. Untuk mobil sekompak ini itu angka tidak bagus. Angka konsumsi energi dalam kotanya juga tak berbeda jauh yakni di angka 9,4 kWh/100 kilometer atau setara dengan 10,6 kilometer untuk 1 kWh.
Sebagai perbandingan, saat kami melakukan pengujian ke Semarang Hyundai All-new KONA Electric mampu menembus angka kehematan hingga 11 kilometer untuk setiap kWh nya. Kebayang kan betapa borosnya angka konsumsi energi SERES E1? Kalau dibandingkan Air EV juga beda tipis angka konsumsi energinya, bedanya Air EV kapasitas baterainya lebih besar.

Kami jujur agak meragukan klaim pabrikan SERES yang bilang dalam satu kali pengecasan penuh si E1 ini bisa berjalan sejauh 220 kilometer. Sebab jika angka konsumsi energi tadi dikalikan dengan kapasitas baterai Lithium Iron Phosphate E1 L-Type yang kapasitasnya 16,8 kWh, hasilnya tak sampai 190 kilometer.

Meski demikian ia juga dilengkapi dengan sejumlah hal menyenangkan. Antara lain fitur CarAuto yang membuat pengguna dapat memainkan berbagai game jadul dengan Smartphone mereka, serta fitur Bluetooth Audio bikin bisa dengar lagu pilihan dari Handphone.

Tentunya mobil kompak racikan SERES ini bisa lebih baik lagi bila sejumlah hal menganggu ini diperbaiki:
1. Memberikan setup respon yang lebih baik pada pedal akseleratornya, ini penting mengingat mobil ini penggunaan utamanya di dalam kota.
2. Mempertimbangkan pakai kapasitas baterai yang lebih besar, tujuannya agar jarak tempuhnya makin jauh dan memadai.
3. Sistem Regenerative Brake di mobil ini sebenarnya sudah cukup baik, hanya saja lebih baik diatur agar lebih smooth.
4. Posisi duduk aneh cenderung bikin pegal saat perjalanan jauh maupun durasi lama. Ini bisa diperbaiki dengan memberikan kursi yang lebih baik untuk menyangga tubuh demi ergonomika yang lebih baik.
5. Akan lebih intuitif bila fitur CarAuto di mobil ini yang hanya bisa untuk main game dan mirroring diganti dengan sistem Android Auto dan Apple CarPlay.


Microcar racikan Cikande, Banten ini adalah teman yang pas untuk kegiatan sehari-hari. Mobil ini cocok untuk mahasiswa/i kuliahan yang hanya perlu kendaraan dari titik A ke titik B. Apalagi ia dilengkapi dengan opsi warna yang eye catching bikin siapapun pasti melirik mobil dengan harga jual Rp 219.000.000 (Harga Khusus DKJ) ini.
Gallery