Test Drive Hyundai KONA Electric: Hemat Energi, Nyaman, & Praktis
Arfian Alamsyah
|26 September 2024

Performa luar biasa: KONA Electric Signature Long Range menawarkan jarak tempuh 549 km dengan baterai 66 kWh buatan Indonesia, mendukung perjalanan jarak jauh tanpa perlu sering mengecas.
Kenyamanan maksimal: Kursi pengemudi yang ergonomis, setir adjustable, serta suspensi yang nyaman bahkan di jalan tol tidak rata.
Fitur canggih: Dilengkapi dengan Bluelink dan aplikasi MyHyundai untuk kontrol penuh kendaraan, serta fitur keamanan seperti Blind-spot View Monitor (BVM) dan Adaptive Cruise Control.

Hyundai KONA Electric merupakan Sport Utility Vehicle (SUV) bertenaga listrik pertama Hyundai di Tanah Air. Sejak diperkenalkan di Indonesia tahun 2020 lalu ia banyak memberi gebrakan. Benar saja sih, ketika saat itu kami coba mobil tersebut memang extraordinary.
Di generasi kedua KONA Electric ia diklaim kembali menjadi SUV yang punya banyak game changer. Mulai dari baterai yang didesain oleh engineer lokal serta pastinya sudah dibikin di Indonesia, fitur berlimpah sampai jarak tempuh yang jauh dalam satu kalai pengecasan.
Oke, mulai dari hal pertama dulu. Membuktikan klaim Hyundai yang katanya enggak perlu charging untuk perjalanan dari Bekasi / Jakarta ke Semarang. Bersama awak media lainnya tim Auto Jago Indonesia ke kota Lumpia itu pakai Hyundai All-new KONA Electric tipe Signature.

Sekadar informasi, terdapat dua varian di All-new KONA Electric yang dibedakan melalui powertrain dan kapasitas baterainya. Trim paling terjangkau adalah Prime Standard Range, lalu ada Prime Long Range serta Signature Standard Range dan terakhir Signature Long Range.
Untuk beda detail tiap tipe dan variant kami lebih menyarankan agar Anda membuka website resmi atau melihat brosurnya. Sebab bila dijabarkan satu per satu akan menjadi satu artikel tersendiri, haha. Kami akan lebih fokus di All-new KONA Electric tipe Signature Long Range.
Di atas kertas ia memiliki klaim performa (NEDC) All Electric Range 549 kilometer ditenagai dari baterai Lithium-ion dengan kapasitas 66 kWh buatan Indonesia yang punya tugas menyalurkan tenaga ke motor listrik di bagian depan. Motor listrik ini punya output tenaga 215 PS dan torsi 255 NM.
Sebelum membahas performa, baiknya kita urutkan dulu dari awal. Untuk masuk ke mobil bisa dengan 2 cara. Pertama adalah cara tradisional dengan mengantungi kunci, sentuh gagang pintu dan kunci pintu pun terbuka secara otomatis.

Yang kedua adalah mengendalikan dari Smartphone via aplikasi MyHyundai. Dengan aplikasi ini MyHyundai yang juga terkoneksi dengan Bluelink, mobil hampir 100% terkontrol dari genggaman.
Sebab di aplikasi ini Anda bisa menyalakan AC, dan mengontrol fitur-fitur penting lainnya seperti membuka kunci kendaraan hingga menyalakan lampu.
Ada satu lagi fitur yang menurut kami berguna. Karena di dalam rangkaian fitur Bluelink terdapat fitur View Around my Vehicle yang dapat digunakan untuk memantau kondisi sekitar mobil saat terparkir. Anda bisa melihat ke kanan, kiri dan bagian belakang kendaraan via hape.

Oke sekarang lanjut masuk ke bagian kabinnya. Yang saya sebagai tester tim Auto Jago Indonesia kagum adalah bagian kursinya yang kulitnya lembut dan nyaman diduduki. Nyaman berarti empuknya pas, karena biasanya kursi yang terlalu empuk akan sedikit bikin pegal saat perjalanan jauh, karena kurang bisa menyangga tubuh dengan baik.
Kursi pengemudi ini dapat diatur elektris 10 arah termasuk lumbar supportnya. Untuk kursi penumpang depan bisa diatur 8 arah dengan Power Adjustable-nya. Posisi mengemudi juga mantab karena setir bisa diatur manual tinggi-rendah dan jangkauannya ke badan (tilt and telescopic).

3 orang dewasa plus barang-barang bawaanya sudah di dalam All-new KONA Electric dengan nomor urut 8, maka saatnya kita berjalan ke Semarang dari Bekasi. Saat start State of Charge (SoC) atau indikator baterai mobil yang saya kemudikan menunjukkan angka 99% sebelum berkendara.
Jam terbang Hyundai di motorsport reli dunia (World Rally Championship) memang patut diacungi jempol. Sebab pengalaman itu dibawanya ke Indonesia dengan meracik suspensi yang nyaman namun tetap mantab dibawa sat-set pada kecepatan tinggi.
Saat melewati jalan tol MBZ pun rasanya kami seperti terbuai, apalagi penumpang di belakang, bisa tertidur walaupun sambungan jalan tolnya tidak rata.

Padahal All-new KONA Electric tipe Signature varian Long Range ini pakai ukuran velg 19 inci dengan ban 235/45R19 yang secara teoritis tidak membantu kenyamanan karena profil / dinding bannya tipis.
Performa motor listriknya juga mengesankan. Injak gas sedikit ia langsung merespon dengan baik. Penyaluran tenaganya juga tidak menghentak yang membuat pengendaraan lebih nyaman. Bobot kemudi terasa pas, berkat teknologi Column Motor Driven Power Steering (C-MDPS) bikin setir terasa enteng saat parkir dan tetap mantab ketika mobil diajak melaju pada kecepatan tinggi.

Yang paling mengesankan menurut redaksi kami adalah kehematan energinya. Mobil ini bahkan mampu mencatatkan angka konsumsi energi listrik yang seharusnya didapat pada rute dalam kota. Sepanjabg perjalanan 431 kilometer angkanya berkisar di 7,6 hingga 8,3 km/kWh. Ini angka yang luar biasa di jalan tol.

Sebab mobil listrik memiliki kerugian bila lewat jalan bebas hambatan ini. Oleh karena mobil listrik kalau di jalan tol yang lengang bakal jarang banget pakai Regenerative Braking-nya.
Fitur Regenerative Braking inilah yang bisa membuat konsumsi energi listrik semakin efisien, karena energi yang dikeluarkan berusaha dikembalikan lagi jadi daya listrik, sehingga jarak tempuh kian bertambah.
Energy Recuperation alias Regenerative Braking mobil ini juga luar biasa baik. Energi yang terpakai seolah mampu dikembalikan secara utuh. Menurut kami hampir 1:1 (satu banding satu).
O ya sepanjang perjalanan Bekasi-Semarang ini saya mengemudi 100%. Sebab 2 penumpang yang saya bawa bilang mobil yang nyaman enaknya jadi penumpang, hehe. Terlebih adanya fitur Indoor V2L memudahkan saat hendak mengecas gadget.

Kualitas reproduksi suara dari Sound System Bose dengan 8 speaker dan dilengkapi dengan external amplifier membuat suara penyanyi Bruno Mars terasa menghibur sepanjang perjalanan. Enjoy banget.

Dan selama perjalanan ke Semarang yang ditempuh dengan waktu total 6,5 jam (perjalanan cenderung santai) saya tidak merasakan pegal sama sekali. Ini menandakan kursi yang dirancang Hyundai mampu berpadu sempurna bersama set suspensinya dengan baik.
Fitur Adaptive Cruise Controlnya juga bekerja secara halus. Fitur ini tidak mengurangi kecepatan yang biasanya dilakukan melalui intervensi pedal rem yang berlebihan maupun memanfaatkan Regenerative Braking.
Sehingga pengemudi maupun penumpang tidak merasa mual. Para engineer Tanah Air dari Hyundai telah berhasil melakukan kalibrasi sistem pintar tersebut agar sesuai dengan kondisi maupun situasi lalu lintas di Indonesia.

Terdapat juga fitur Blind-spot View Monitor (BVM) yang terdapat di dalam rangkaian Hyundai SmartSense. Fitur BVM ini dapat diaktifkan dengan cara mengaktifkan lampu sein baik ke kiri maupun ke kanan. BVM berfungsi memantau titik buta dan memproyeksikan kondisi secara real time pada tampilan metercluster.

Rasa aman dalam berkendara didukung juga dengan penerapan tombol fisik. Menurut saya pribadi sebagai test driver kendaraan baru, hal ini penting. Sebab terlalu banyak fitur diletakkan di layar akan membuat pengoperasian fitur menjadi kurang intuitif bahkan membahayakan.
Dengan penerapan Pyshical Button ini pengemudi akan pakai body memory untuk mengoperasikan fitur saat mengemudi. Gampangnya tombolnya mudah untuk dihafal, pun demikian dengan rasa saat menekan tombolnya yang terasa premium dan solid.

Akhirnya terbukti sampai kota Semarang angka State of Charge (SoC) masih di 17% dan komputer di mobil ini memprediksi mobil masih bisa jalan 82 kilometer lagi sampai baterai benar-benar habis.

Arrived at Semarang - SoC 17%
Jadi buat kamu yang masih ragu apakah mobil listrik bisa jalan dari Bekasi / Jakarta ke Semarang tanpa re-charging jawabannya adalah bisa banget kalau pakai Hyundai All-new KONA Electric.
1. Tombol multifungsi di setir walau enak ditekan namun tata letaknya kurang natural. Baiknya tombol pengatur audio diletakkan pada spoke sebalah kiri, sedangkan untuk mengatur layar instrumen dan Adaptive Cruise Controlnya diletakkan di palang sebelah kanan.

2. Ruang penempatan Indoor V2L kurang lebar, sehingga jika ingin menggunakan soket variasi yang lebih dari satu colokan maka tidak cukip ruangnya. Harusnya Hyundai bisa mengadaptasi penempatan Indoor V2L seperti di IONIQ 5 dan IONIQ 6.

Di rentang harganya Hyundai All-new KONA Electric mampu memberikan performa yang luar biasa, baik saat berkendara maupun kenyamanannya. Tak berlebihan rasanya kalau tim Auto Jago Indonesia memberikan pujian ke model ini. Ia bisa menjadi benchmark mobil SUV B-Segment di Indonesia. Bravo Hyundai.