Perbandingan Toyota Innova Zenix HEV VS BYD M6
Arfian Alamsyah
|18 November 2024

Menurut redaksi Auto Jago Indonesia, yang namanya mobil keluarga itu harus bisa menjadi kendaraan yang serbaguna. Tak hanya memenuhi jargon One Car for All alias satu mobil untuk segala kebutuhan, tetapi wajib dapat memberikan peace of mind ketika mobil tersebut digunakan.
Untuk mengetahuinya, mobil harus dijalankan. Kedua mobil ini, baik Build Your Dreams (BYD) M6 Superior 6-Seater maupun Toyota Kijang Innova Zenix 2.0 Q HEV CVT TSS Modellista, kami jalankan ke rute yang serupa yang dikemudikan test driver yang sama. Tujuannya agar mendapatkan gambaran riil mengenai kedua mobil tes.

Kami jalankan mobil-mobil tersebut ke daerah yang cukup rural alias pelosok untuk mengetahui seberapa tenang saat pakai kedua mobil itu. Tepatnya mobil kami lajukan dengan rute Jakarta ke daerah Kabupaten Bogor, mendekati Jasinga yang sudah nempel ke rute jalan raya arah Pandeglang.
Untuk pemilihan rutenya sendiri kami memiliki alasan kuat. Karena terdiri dari rute kombinasi yang proper. Mulai dari jalan dalam kota biasa (inner city), jalan tol, simulasi jalan antar provinsi yang berkelok, dan pastinya ada rute pedesaan atau sub urban (yang kondisinya rusak tipis-tipis). Yang jelas kondisi jalan seperti ini lazim ditemui di Indonesia.

Kita mulai dari BYD M6 Superior 6-Seater terlebih dahulu. Multi Purpose Electric Vehicle (MPEV) asal Tiongkok ini, kami cek dulu tekanan angin pada keempat bannya sebelum jalan agar sesuai rekomendasi pabrikan. Hal yang sama kami lakukan pada Innova Zenix Q untuk memastikan semua memiliki prakondisi yang sama.
Sayangnya untuk M6, kami tidak sempat melakukan charging ulang baterai sebelum jalan. Posisi baterai ada sekitar 33% State of Charge (SoC). Hal ini merupakan kekurangan mobil listrik yang masih belum dapat diantisipasi sepenuhnya. Sementara HEV (Hybrid Electric Vehicle (HEV) seperti Innova Zenix HEV, dapat melaju kapanpun tanpa khawatir kehabisan daya baterai lantaran sanggup melakukan self charging.

Melaju jalan perkotaan, mobil ini jelas hening tanpa suara, demikian pula saat melewati jalan tol. Meski ground clearance M6 ada di angka 170 mm yang cukup tinggi untuk sebuah MPV, desain bodi yang aerodinamis membuat mobil keluarga ini lebih mudah membelah angin. Alhasil, saat di jalan lurus dengan kecepatan tinggi mobil lebih stabil.
Di jalan antar propinsi yang lalu lintasnya dua arah dan berliku, M6 cukup baik pengendaliannya. Sayang saat bertemu permukaan jalan yang agak keriting, kursi pengemudi kurang bisa menyangga badan dengan baik. Analisa kami karena busanya terlalu empuk sehingga lumbar dipaksa menyangga bobot badan. Enggak enak asli buat perjalanan menengah-jauh.

Makin parah lagi ketika melewati jalan sub-urban alias pedesaan yang rusak. Bantingan suspensi yang firm memang bikin percaya diri ketika menikung cepat dan ngebut di jalan lurus, tetapi menjadi boomerang saat lewat jalan rusak. Dikombinasi kursi yang kurang menyangga badan dengan baik, kualitas berkendara mobil ini tidak sebaik Zenix.

Kenapa kami bilang Zenix jauh lebih oke kualitas berkendaranya? Sebab ia menyajikan hal yang pas di semua lini. Di dalam kota, ia memberikan level kenyamanan yang optimal, di jalan tol juga tetap stabil dan nyaman di kecepatan maksimal yang diizinkan. Di jalan berliku, handling-nya tetap mumpuni. Meskipun kursinya tidak seempuk M6, tapi justru mampu menyangga badan dengan sangat baik sehingga tidak mudah lelah waktu long trip.

Lewat jalan rusak, Zenix Q Modellista kian terasa keunggulannya. Dengan ground clearance lebih tinggi 15 mm, membuat MPV legendaris ini sanggup melibas jalanan rusak dan bebatuan tanpa kendala. Sementara pada M6, kami agak kesulitan ketika melewati jalan berlubang karena khawatir kolong mobil terantuk batu.

Hal ini memberikan peace of mind kepada pemiliknya. Dengan rekam jejak panjang, Toyota telah memiliki jaringan bengkel resmi yang menjangkau sebagian besar wilayah Indonesia. Ditambah mobil yang kapabel diajak kemanapun, mau itu tanjakan terjal, menikung patah, jalan sempit semua bisa dilalui dengan mudah.

Masalah lain muncul ketika pakai BYD M6 Superior 6-Seater. Sudah kesulitan mencapai lokasi foto, eh baterai tiris pula. Akhirnya kami kembali ke kota Bogor setelah mengetahui di Kota Bunga tersebut ada SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) dengan DC Ultra Fast Charging 200 kW. Sudah dag-dig-dug ke sana, sampai lokasi pengecasan masih harus antri karena ada 3 mobil listrik lainnya lagi ngecas!

Alhasil, kami menghabiskan waktu 120 menit alias 2 jam lebih! Itu belum semua, karena butuh waktu tambahan di SPKLU, yakni menghubungkan pembayaran cashless, dan butuh komunikasi antara mobil dengan ‘dispenser’ pengisiannya. Sementara saat nyetir Toyota Kijang Innova Zenix 2.0 Q HEV CVT TSS Modellista, kami bahkan lupa kapan terakhir isi bensin.

Bagaimana tidak, kapasitas tangkinya 52 liter. Katakan konsumsi bensin rata-rata berkisar 18-19 km/liter. Dengan satu tangki penuh, Anda bisa jalan nonstop di atas 900 km. Artinya, tidak perlu isi bensin saat berkendara Jakarta-Surabaya yang berjarak sekitar 780 km. Kalaupun harus isi bensin, paling lama butuh waktu 5 menit dan ada di semua rest area. Tambah lagi deh rasa aman dalam pikiran.

Untuk aktivitas setiap hari, teknologi hybrid Innova Zenix sudah cukup memadai, pun ketika harus ke luar kota. Memang, mobil listrik menjamin kemudahan mobilitas di perkotaan, namun range anxiety akan menghantui begitu bertemu macet parah atau ke luar kota tanpa persiapan energi baterai. Ini membuat Anda merasa lebih tenang berada di balik kemudi Toyota Kijang Innova Zenix Q Modellista HEV ketimbang BYD M6 Superior 6-Seater.