Review HYPTEC HT, SUV Coupe EV Tanpa Lawan
Arfian Alamsyah
|18 Oktober 2024

Ada alasan valid mengapa tim Auto Jago Indonesia menyebut bahwa HYPTEC HT nyaris enggak punya rival langsung di Tanah Air. Brand asal Tiongkok yang merupakan kakak dari AION ini kami jajal Jakarta-Bogor-Jakarta untuk mengetahui bagaimana impresinya.
Pertama perlu diperjelas dulu, HYPTEC menurut informasi yang tim redaksi dapat dari AION Indonesia merupakan premium brand. Sedangkan AION menyasar pasar yang lebih luas dengan model-model yang setup harganya lebih terjangkau seperti ES dan Y Plus.
Sedangkan HYPTEC di Indonesia baru punya satu model yakni HT. Mobil ini masuk di kelas SUV Coupe yang harganya rata-rata di atas Rp 1 miliar di Indonesia. Rival langsung mobil ini di China adalah Tesla Model X, Mercy GLC 300 Coupe, Lexus RZ 450e Luxury dan menurut kami ada satu lagi yakni BMW iX.

Kami kebagian nyetir full di event Media Drive ini, jadi bisa menilai secara objektif bagaimana rasanya mobil ini di jalanan. Kuncinya sudah model keyless jadi tinggal dikantungi saja. Gagang pintu yang 'ngumpet' tinggal ditarik agar pintu membuka.

Asyiknya dari dalam, mobil ini tak memiliki gagang pintu mekanikal, hanya tuas elektronik saja. Ini menambah kesan mewah dari model HT ini. Begitu duduk di joknya kami mendapati pengaturan yang praktis karena pengaturannya sudah full elektrik.

Desain dashboardnya juga menurut kami keren tanpa adanya tombol fisik sama sekali. Meski menurut kami ini bukan jadi keunggulan, nanti akan kami sampaikan di sisi yang perlu diperbaiki dari mobil ini pada pokok bahasan selanjutnya.

Kursinya empuk dan cukup menopang badan dengan baik. Demikian juga kursi belakang yang pengaturannya luas. Bisa jadi kursi santai maupun sofa mode, dengan melakukan sedikit pengaturan di kursi depan. Maka kursi belakang bisa jadi tempat yang sangat rileks.

Mada Prasetya, jurnalis otomotif dari Carmudi dan Ahmad 'Bonte' Biondi jurnalis dari Otodriver yang satu mobil dengan redaksi Auto Jago Indonesia bilang nyaman banget duduk di kursi belakang. Apalagi ada meja lipat di balik bangku pengemudi, dan tempat rest kaki di depan kursi penumpang depan.

Kenyamanan kabin ini kami rasa juga paripurna. Sebab suara dari luar seolah terisolir sempurna ketika Anda berada di dalam kabinnya. Belum lagi ditambah atap kaca Panoramic Roof yang tirainya bisa digeser secara elektrik. Mendambah kesan syahdu di dalam kabin, apalagi di malam hari.

Di kursi penumpang belakang, kursinya dapat direbahkan sampai 143 derajat. Sementara kursi depannya menawarkan kenyamanan selayaknya pesawat First Class. Kursi penumpang depan ini dapat disetel untuk dimasukkan secara maksimal, kemudian dibalik sandaran punggung juga tersedia foot rest untuk penumpang belakang.

Sebelum jalan, karena mobil hanya diisi empat orang termasuk pengemudi, maka kami (tiga orang teman sesama jurnalis dan saya) berinisiatif untuk meletakkan seluruh tas kami yang umumnya berisi laptop dan baju ganti di bagasi belakang. Dan wow, kami terkejut.

Karena bagasinya cukup lega, ketika semua kursi digunakan akan tersedia kapasitas bagasi 590 liter yang siap digunakan. Bila kurang ada 80 liter lagi bagasi yang tersembunyi di bawah lantainya. Oh ya mobil ini tak menggunakan ban serep karena sudah pakai ban Run Flat Tire.

Oke sekarang lanjut persiapan berjalan. Sebelum jalan walau posisi duduk pengemudi sudah pas karena setirnya bisa diatur tinggi-rendah serta jangkauannya (tilt and telescopic) dan kursinya elektrik, tapi untuk mengatur spion harus masuk ke menu di layar tengah itu.

Setelah menemukan menu pengatur spion, Anda tinggal mengatur dari rotary button di setir baik spoke (palang) kanan maupun spoke sebelah kiri tergantung spion luar mana yang hendak Anda atur. Setelah ketemu barulah Anda aman untuk berjalan.

Bantingan suspensi mobil ini bisa dibilang firm tapi tetap nyaman. Saat melewati polisi tidur maupun jalang bergelombang, terasa sekali jika kursinya yang empuk seolah membantu untuk membuat pengemudi dan seisi kabin tetap terasa nyaman.

Selama perjalanan kami terhibur oleh High-quality surround sound system yang mengandalkan 22 speaker High-fidelity (Hi-Fi) yang didukung oleh 1.440 watts High-voltages amplifier. Suaranya jernih, karena speaker ini sudah dituning oleh Belgian expert Peter de Paul.

Bicara sedikit soal teknis mobil ini pakai baterai jenis LFP dengan nama Magazine Battery. Baterai berkapasitas 83,3 Kwh ini bertugas untuk menyuplai tenaga ke motor listrik bertenaga 320 HP / 240 KW yang terletak di bagian belakang. Jadi mobil ini Rear Wheel Drive.

Jarak tempuh maksimum dalam satu kali pengecasan baterai penuh yang diklaim adalah 620 kilometer. Kami agak ragu klaim tersebut dapat tercapai, karena selama 143 kilometer kami mengemudi, kehematan energi yang dihasilkan hanya ada di angka 13,5 kWh/100 kilometer atau 1 kWh hanya mampu berjalan sejauh 7,4 kilometer.

Ini menandakan bahwa efisiensi baterai mobil ini belum sebaik rivalnya asal Korea Selatan apalagi Jerman. Namun itu semua terobati dengan kenyamanan kabin mobil ini yang kami nilai cukup baik. Akselerasinya juga cepat untuk mobil seukuran ini, karena diklaim 0-100 km/jam hanya 5,8 detik saja. Nanti akan kami tes ulang jika sudah bisa pinjam mobil ini.

Tentunya ada beberapa catatan kami yang bisa digunakan oleh pihak pabrikan jika hendak melakukan penyempurnaan agar produknya lebih baik lagi. Tak terkecuali dengan HYPTEC HT ini. Mobil ini bisa lebih sempurna bila 6 hal ini diperbaiki:

Seluruh pengaturan fitur yang berpusat di layar instrumen bagian tengah menurut kami agak menyulitkan dan bagi pengemudi baru perlu adaptasi yang lebih lama. Bahkan untuk sekadar mengatur spion dan folding saja harus diatur dari spion. Ini akan menyulitkan ketika harus melewati jalan rural yang tidak lebar dan membutuhkan pelipatan spion elektrik cepat.

Lho kok begitu? Namun itulah yang kami rasakan, meskipun kursinya empuk dan ada fitur pijat untuk penumpang depan dan pengemudi yang bisa membuat rileks, namun untuk perjalanan jauh di kondisi Indonesia, kursi seperti ini cenderung memembuat pegal karena sulit untuk menopang bobot tubuh dengan baik.

Mobil ini begitu nyaman sampai harus membuat pengemudinya memastikan bahwa saat parkir tak boleh pararel. Sebab secara otomatis ia berpindah ke posisi gear P saat pintu dibuka dan pengemudi turun. Posisi gear P berarti ia tak bisa didorong manual. Mungkin di China tidak masalah, tapi di Indonesia akan jadi problem.

Saat kami coba sedikit bermanuver, mobil ini agak kurang nurut. Meski masih masuk batas toleransi namun kami berpendapat sebaiknya set suspensinya dibuat agar pengendaliannya lebih baik. Mengingat model mobil HYPTEC HT ini adalah sebuah SUV Coupe yang tak hanya menjual tampilan saja, namun seharusnya rasanya juga seperti Coupe yang Fun to Drive.

Meskipun mobil ini menawarkan baterai ukuran gambot dengan jarak tempuh yang klaimnya tinggi hingga 620 kilometer dengan metode tes NEDC. Tapi tak adanya indikator presentase baterai pada panel instrumen menurut tester kami agak sedikit menyulitkan untuk mengira-ngira jarak sisa tempuhnya. Sebab indikator jarak akan berubah-ubah sesuai dengan cara mengemudi dan kondisi lalu lintas. Indikator State of Charge itu penting. Meski presentase baterai akan sedikit mempengaruhi psikologis pengemudi yang belum terlalu terbiasa.

Kondisi jalanan Indonesia yang agak random membuat keberadaan ban serep menurut redaksi kami sangat penting. Jika amit-amit dinding ban mengalami kerusakan fatal atau robek misalnya, mobil benar-benar tak bisa dijalankan sama sekali walau bannya sudah RFT. Kami pernah mengalaminya saat menguji salah satu mobil dengan ban RFT. Itulah mengapa kami menilai keberadaan ban cadangan sangat penting meski ban sudah RFT.

Dengan harga pre-booking Rp 685 juta, jelas tak ada rival-rival sekelasnya yang mampu menyaingi Hyptec HT. Rival sekelasnya seperti Tesla Model X, Tesla Model Y, Lexus RZ hingga BMW iX jelas harga jualnya sudah menembus lebih dari satu miliar rupiah. Menurut kami hanya harga-lah yang akan menyelamatkan mobil ini dan membuatnya laku di pasaran. Bisa kami bilang mobil ini belum punya rival langsung dengan set harga seperti itu...